Sabtu, 24 Maret 2012

Museum Trowulan


IMG1962A.jpg
Sejarah Museum Trowulan berkaitan erat dengan sejarah situs arkeologi Trowulan. Reruntuhan kota kuna di Trowulan ditemukan pada abad ke-19. Sir Thomas Stamford Raffles, gubernur jenderal Jawa antara tahun 1811 sampai tahun 1816 melaporkan keberadaan reruntuhan candi yang tersebar pada kawasan seluas beberapa mil. Saat itu kawasan ini ditumbuhi hutan jati yang lebat sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan survei yang lebih terperinci.
Keperluan mendesak untuk mencegah penjarahan dan pencurian artefak dari situs Trowulan adalah alasan utama dibangunnya semacam gudang penyimpanan sederhana yang akhirnya berkembang menjadi Museum Trowulan.Museum ini didirikan oleh Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda sekaligus seorang arkeolog, serta berkat peran Bupati Mojokerto, Kanjeng Adipati Ario Kromodjojo Adinegoro.
Museum baru secara resmi dibuka pada tahun 1987. Bangunan museum ini mencakup lahan seluas 57.625 meter persegi, bangunan ini menampung koleksi Museum Trowulan lama serta berbagai arca batu yang sebelumnya disimpan di Museum Mojokerto.Pembangunan museum baru telah diajukan di kawasan ini dan lokasi ini telah diusulkan untuk menjadi kawasan Warisan Dunia UNESCO.
Museum Trowulan adalah museum arkeologi yang terletak di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Museum ini dibangun untuk menyimpan berbagai artefak dan temuan arkeologi yang ditemukan di sekitar Trowulan.
Museum ini terletak di tepi barat kolam Segaran. Museum Trowulan adalah museum yang memiliki koleksi relik yang berasal dari masa Majapahit terlengkap di Indonesia. Luas area Museum 57.255 meter persegi terdiri dari areal penggalian situs Majapahit, dan  bangunan museum, terdapat pula beberapa fasilitas, seperti toko souvenir Amerta yang menjual berbagai macam cindra mata, kaos, pigora, mushola dan lahan parkir kendaraan roda dua maupun roda empat.
Tempat ini adalah salah satu lokasi bersejarah terpenting di Indonesia yang berkaitan dengan sejarah kerajaan MajapahitKebanyakan dari koleksi museum ini berasal dari masa kerajaan Majapahit, akan tetapi koleksinya juga mencakup berbagai era sejarah di Jawa Timur, seperti masa kerajaan Kahuripan, Kediri, dan Singhasari. Didalam ruangan koleksi benda-benda kuno juga terdapat Prasasti Alasantan. Sebuah prasasti yang menceritakan pada tanggal 5 Kresnapaksa bulan Badrawada tahun 861 saka (6 September 939 m), Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isana Wikrana memerintahkan agar tanah di alasantan di bawah kekuasaan Bawang Mapapan (Ibu dari Rakryan Mapatih 1)
Masuk menuju ruang pertama, pengunjung diajak menikmati koleksi logam, ruang koleksi Prasejarah, koleksi batu dan koleksi tanah liat, tepat dibelakang museum terdapat ruangan  peninggalan situs trowulan berupa batu-batu candi, dan patung-patung dijaman kerajaan Majapahit.
Ilustrasi Lambang Majapahit (foto: Wikimapia)Mahasurya Majapahit
Sebelum memasuki ruang koleksi, di tengah sudut ruangan atau di lobi museum, terdapat batu surya Majapahit, batu surya ini sebagai lambang atau simbol  Majapahit, perwujudan sinar matahari,  yang berbentuk 4 lingkaran dan 1 pusat utama, maksudnya Siwa (Pusat), Iswara (Timur), Mahadewa (Barat), Wisnu (Utara), Brahma (Selatan), Sambhu (Timur laut), Rudra (Barat daya), Mahesora (Tenggara), dan Sangkara (Barat laut) sedangkan Dewa Minor sebagai sinar yang memancar. Dan disebutkan juga Surya Majapahit sebagai lambang Negara Majapahit.
Di antara koleksi museum ini terdapat salah satu koleksi terkenal, yakni arca raja Airlangga yang digambarkan sebagai dewa Wishnu tengah mengendarai Garuda, dari Candi Belahan. Sebuah arca bersayap yang dianggap sebagai perwujudan raja Blambangan legendaris, Menak Jinggo. Bagian dari bangunan candi yang ditemukan dari situs di Ampelgading Malang. Sebuah patung yang menggambarkan kisah Samodramanthana, atau "Pengadukan Lautan Susu" yang terukir sangat indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jam